Latest Post

Showing posts with label SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts

Sejarah Singkat 4th of July / Hari Kemerdekaan Amerika Serikat

| Friday, March 4, 2016
Read more »


4th of JULY




Di Amerika Serikat, Hari Kemerdekaan atau yang juga sering disebut dengan Fourth of July, adalah hari libur nasional untuk merayakan Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat dari Kerajaan Bitania Raya yang dilakukan pada tanggal 4 Juli 1776. Hari Kemerdekaan Amerika Serikat biasanya diasosiasikan dengan pesta kembang api, parade, barbekyu, karnaval, piknik, konser, permainan baseball, pidato politik dan acara-acara lainnya dalam rangka merayakan sejarah, pemerintahan dan tradisi Amerika Serikat.




Latar Belakang




Pada masa Revolusi Amerika, pemisahan sah koloni Amerika dari Britania Raya terjadi pada tanggal 2 Juli 1776 ketika Second Continental Congress memilih untuk menyetujui perjanjian yang disebut dengan a Resolution of independence yang diajukan oleh Richard Henry Lee dari Virginia. Setelah memilih untuk merdeka, Congress mengalihkan perhatiannya pada deklarasi kemerdekaan (Declaration of Independence), sebuah pernyataan yang menjelaskan mengenai keputusan ini, yang sudah lebih dulu dibuat oleh sebuah komite dengan Thomas Jefferson (yang nantinya menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-3) sebagai penggagas awalnya. Congress berdiskusi dan merevisi Deklarasi tersebut dan pada akhirnya menyetujui pada tanggal 4 Juli. Sebelumnya, John Adams (yang nantinya menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke-2) menulis sebuah surat kepada istrinya Abigail yang berbunyi:




The second day of July, 1776, will be the most memorable epoch in the history of America. I am apt to believe that it will be celebrated by succeeding generations as the great anniversary festival. It ought to be commemorated as the day of deliverance, by solemn acts of devotion to God Almighty. It ought to be solemnized with pomp and parade, with shows, games, sports, guns, bells, bonfires, and illuminations, from one end of this continent to the other, from this time forward forever more.




Prediksi Adam meleset dua hari. Amerika merayakan hari kemerdekaan pada tanggal 4 Juli seperti yang tertulis pada Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan).




Budaya




Hari Kemerdekaan adalah hari libur nasional yang biasanya ditandai dengan pemasangan atribut patriotik di Amerika. Sama dengan acara-acara yang terjadi pada musim panas lainnya, perayaan hari kemerdekaan biasanya dilakukan di udara terbuka.




Keluarga Amerika biasanya merayakan hari ini dengan melakukan piknik atau acara barbekyu dan menggunakan hari libur tersebut berkumpul dengan keluarga. Dekorasi seperti umbul-umbul, balon dan pakaian biasanya penuh dengan warna merah, putih dan biru, warna-warna yang terdapat di bendera Amerika. Parade sering kali dilakukan pada pagi hari, sedangkan pesta kembang api dilakukan di taman dan pusat keramaian kota pada malam hari.




Kembang api biasanya diiringi dengan lagu-lagu patriotik Amerika Serikat seperti lagu kebangsaan “The Star-Spangled Banner”, “God Bless America”, “America the Beautiful”, “My Country, ‘Tis of Thee”, dan lainnya.




Pesta kembang api dilakukan di banyak negara bagian, dan banyak juga kembang api dijual untuk penggunaan pribadi sebagai alternatif dari pertunjukkan publik. Alasan keamanan banyak juga membuat beberapa negara bagian tidak mengijinkan atau memberikan limit untuk besar dan tipe kembang api yang diperbolehkan untuk diperjual belikan secara umum.




Upacara biasanya diramaikan dengan tembakan penghormatan yang disebut “Salute to the Union” yang dilakukan pada tengah hari.




Permainan-permainan yang dilakukan di Amerika Serikat pada hari kemerdekaannya juga hampir mirip dengan yang dilakukan di Indonesia. seperti Balap Karung, Tarik Tambang, Sendok Kelereng, Pawai Sepeda Hias dan lain sebagainya.

Sejarah Singkat 4th of July / Hari Kemerdekaan Amerika Serikat

Posted by : Unknown on :Friday, March 4, 2016 With 0comments

History of Struggle for Independence of the Republic of Indonesia

|
Read more »
Manuscript and the reading of the proclamation of independence of the republic Indonesia:



History of Struggle Indonesian nation.

a. History of Struggle Nations.The journey of Indonesian history that began in the era before and during the colonial era continued to seize and maintain independence through the independence era, created the conditions and according to different demands of his time. Different conditions and demands are addressed by the Indonesian nation based on common values ​​kejuangan national spirit which constantly growing and developing based on the spirit, determination and spirit of nationalism. All of them grow into a force capable of pushing the realization process in the container Homeland Archipelago.b. Before the era of colonization.Since the year 400 AD until the year 1617, the kingdoms on Earth Persada Nusantara is the kingdom of Kutai, Tarumanegara, Srivijaya, Kediri, Singasari, Majapahit, Ocean Pasai, Aceh, Demak, Mataram, Goa and other Iainnya, a royal- the largest empire the Earth Persada throughout the archipelago. The value contained in the era before the occupation is the people who are obedient and loyal to his king to stem the invaders and uphold the dignity and sovereignty as a nation independent monarchy in the archipelago.c. During the era of colonization.The Indonesian nation colonized by foreign nations beginning in 1511 until 1945 the Portuguese, Dutch, English and Japanese. During the colonization event that stands out is in 1908, known as the First National Awakening Movement, the birth of Budi Utomo organization movement, spearheaded by Dr. And Dr. Sutomo. Wahidin Sudirohusodo, And 20 years later on October 28, 1928 marked the birth of the Youth Oath as the starting point of public awareness to the nation of Indonesia, where sons and daughters of Indonesia vowed: "ONE nation, landless AIR ONE, AND ONE LANGUAGE: INDONESIA". This pledge statement has a value very strategic objectives in the future unity and integrity of Indonesia. Niiai contained during the occupation is Self-esteem, solidarity, unity and integrity, and national identity.d. Seizing and Maintaining Independence era.Starting from 1942 until the year 1949, which at the date of March 8, 1948 the Dutch surrendered unconditionally to the Japanese! Alui Kalijati Agreement. During the Japanese occupation ¬ young women were trained in the Indonesia military in order to help Japan win the Greater East Asia War. The training is through Seinendan, Heiho, maps etc., so that youth Indonesia already has a military stock. On August 15, 1945 Japan surrendered to the Allies caused the atomic bombed city of Hiroshima and Nagasaki. The defeat of Japan to the Allies and the power vacuum that occurred in Indonesia in the best possible use by the youth of Indonesia to seize independence. With the fighting spirit that does not know surrender is based on faith and piety to God the Almighty, and sincerity sacrifice has been burned into the souls of the youth and people of Indonesia to win its independence, which was proclaimed on August 17, 1945 by Soekarno-Hatta. After independence the Indonesian nation must face the Netherlands who want to re-colonize Indonesia by launching military action in 1948 (First Dutch Military Action) and 1948 (Dutch Second Military Action), and Madison PKI rebellion masterminded by Muso and Amir Syarifuddin in 1948. Seize and defend the independence era contain the fighting spirit of the most rich and complete as is the culmination point in the war of Independence August 17, 1945. Kejuangan values ​​contained in seizing and maintaining independence 'is as follows:1. Value kejuangan relegius (faith and piety to God the Almighty).2. Kejuangan values ​​willingly and voluntarily sacrifice.3. Kejuangan knows no surrender value.4. Kejuangan value of self-esteem.5. Value kejuangan confidence.6. Kejuangan values ​​persist.7. Value kejuangan patriotism.8. Value kejuangan heroism.9. Kejuangan feeling of shared values ​​and sepenanggungan.10. Value kejuangan solidarity.11. Value to the struggle of nationalism and love of water tahah12. Kejuangan value of unity and oneness.e. Charge Independence era.At the beginning of the independence arise various problem, among others, arising as much as 27 times the turn of the cabinet and the various rebellions-pemberontakan'i like: DIITII, APRA, RMS, Andi Azis Kahar Muzakar, PRRI / Permesta, etc. as well as the occurrence of irregularities in the state organization which raised the Presidential Decree on July 5, 1959 to return to the 1945 Constitution, the deviation y'ang very basic view of life is to transform the nation into Communist ideology Pancasila Indonesia, with the outbreak G30S/PKI events. These events can be eliminated thanks to the military struggle at that time the people together, then the birth of the New Order is returned to the new order of life by implementing Pancasila and 1945 Constitution and the consequent mummies. During the New Order development goes well, people's living level per capita rises, but the mentality of the people administering the state and less well so that the resulting corruption, collusion and nepotism (KKN) result in a financial crisis, economic crisis and financial crisis, and finally there was a crisis of confidence which is marked by the decline of Leadership Nationally, the condition that the source of the trigger social upheaval. These conditions addressed by the student with the actions and demands of "Reform", which is essentially the reform is the change in an orderly, planned, directed and do not modify / subvert the fundamental values ​​that are contained in the era of complete independence is the spirit and determination to achieve the nation , alleviate poverty and combat underdevelopment, independence, mastery of science and technology and high competitiveness based on Pancasila and 1945 Constitution so it's ready to face the 21st century the era of globalization.From the description above that the history of the struggle of the nation has a role in contributing niJai-niiai kejuangan in defending the nation and the independence to remain intact and the establishment of the Unitary Republic of Indonesia INDONESIA SINGLE ONE.The Nation Menegara process.Menegara nation process is a process that gives an overview of how the formation of the nation, where a group of people who are in it to feel as part of the nation and the establishment of the state is an organization that embodies the nation and is felt by the nation's interests, so that the growing awareness to maintain straight and intact state through the efforts of the State Defense. State-Defense in an effort to be performing well if it created the mindset, attitudes and acts / behavior of a civilized nation as encouragement / motivation of the desire to realize the State Defense as follows: The Cultured Nations, meaning the nation is willing to carry out a relationship with the creator "God "called Religion; Nations who want to try, to make ends meet is called Economics; Nations Want The Associated With the environment, related to each other and the natural surroundings is called the Social; Nations Want The Associated With Power, called the Political Nation The Tranquility Want Safe and Prosperous Living, associated with a sense of caring and tranquility and comfort of living in a country called the Defense and Security.In modern times the country lazim_ya oJeh justified assumptions or views of humanity. Similarly, according to the Indonesian nation, as defined in the Preamble of the 1945 First Paragraph, the existence of the Unitary Republic of Indonesia is that independence is the right of all nations so that colonization, as opposed to humanity and justice should be abolished. If the "proposition" inj our theoretical analysis, then live in groups "good society, nation and state should not reflect the exploitation of fellow human beings (occupation) must be humane and must berperikeadilan. This is the most fundamental theoretical justification of the Indonesian nation about the state. The second thing that requires an analysis is that liberty is the right of all nations, why in practice often arise manifold concept of nationhood which can sometimes contradictory. Different concepts of the state based on ideological thinking is the main cause, so we need to understand the philosophy of the meaning of constitutional freedom or independence of a nation in relation to ideology. Yet in its application to modern times, the theory is in fact not universally followed people.We know many people who claim the same territory, as did many governments are demanding the same nation.People then assume that the recognition of other nations, requires a mechanism that allows it is commonly called the proclamation of independence of a country.The development of this kind of thinking influence the debate within PPKI, both within countries and regions discussed in formulating the 1945 Constitution which was actually planned as a manuscript proclamation. Therefore it is a fact also that none of Indonesian citizens who do not consider that there is a Unitary State of Republic of Indonesia at the time of the Proclamation of August 17, 1945, although there are those who argue mainly different overseas under the pretext of a universal theory ....


Photo soekarno, Hatta and Syahrir When captive dutch :






After the second police action in December 1948, three Republican leaders of this young Dutch captured andexiled to the island of Bangka,

Official travel photo minister 1947:




The illustration above is the official travel of the Minister of Minister of the Republic when reviewing front of EastJavaThey are waiting for the train at the station Mojokerto that will bring back to JogjakartaNo official travelmoney, no VIP loungeFrom left to rightMrTan Po Goan (Minister of State), Mr.Amir Syarifuddin (Defence Minister), Agus Yemen (Board Liaison), Mr.Maria Ulfah (Minister of Social Affairs), Dr.Johannes Leimena(Minister of Health), MrAli Budiardjo (Secretary of State), Adnan Kapau Gani (Minister of Prosperityand SutanSyahrir (Prime Minister)

Photo Soekarno & Haji Agus Salim:



President Sukarno along with Foreign Minister Haji Agus Salim in the struggle for recognition of the independence of the Republic of Indonesia
Photo of discussion when the freedom fighters:

  

The fighters Indonesia Photo Developing Strategy:

  
Photo of the president's visit to the community soekarno:

  

Photo Bung Karno welcomes guests Arrival Country:

Bung Karno's Indonesia Intellectual Leaders:


Bung Karno Photo Warrior Nation Indonesia Joint Leaders:

  

Photo of Bung Hatta In exile:

  
Photo Fighters Indonesia That being fought:

  

Photo Bung Tomo In a speech to evoke the spirit of the freedom fighters:

  
Photo Bung Tomo Family Together:


The photograph of General Sudirman with Suharto





  

Partai Nasionalis Indonesia (PNI)

| Thursday, March 3, 2016
Read more »

Pendahuluan
Politik Van de Venter yang telah diterapkan, menyebabkan lahirnya golongan-golongan terpelajar, kaum inteleketual yang mulai merasakan bahwa kolonialisme sebagai ajang eksploitasi ekonomi, politik, sosial budaya. Maka dari itu berubahlah cara perjuangan dari perjuangan otot (menggunakan senjata) ke perjuangan otak (menggunakan akal). Maka lahirlah organisasi pergerakan nasional seperti Budi Utomo, Perhimpunan Indonesia, PKI, SI, PNI.
Perjuangan organisasi tersebut dibagi kedalam dua macam perjuangan, ada perjuangan kooperatif, artinya bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda, serta perjuangan nonkooperatif artinya tidak bekerja sama dengan Hindia Belanda. Namun mempunyai kesamaan yaitu mencapai Indonesia merdeka.
Pergerakan nasional pada masa kolonial sangat beragam dari segi ideologi. Paling tidak ada tiga ideologi yang sangat besar pengaruhnya pada masa pergerakan nasional. Yaitu : Nasionalis, Pan islamis dan komunis. Pada dekade 1920-an saluran paham nasionalis sangat kental terlihat dari sebuah partai nasionalis yang tak lain adalah Partai Nasionalis Indonesia (PNI).
PNI sebagai organisasi yang nonkooperatif, dilihat dari perkembangannya sebagai partai yang jumlah anggotanya berkembang pesat. Hal in karena kepandaian Soekarno dalam berpidato serta mengajak rakyat untuk menentang kolonialisme serta memperoleh kemerdekaan. Hal ini mendapat sorotan dari Pemerintah Hindia Belanda, kemudian menangkap Soekarno, karena dapat menentang adanya kolonialisme di Indonesia.
Dengan demikian PNI sebagai organisai pergerakan nasional yang cepat berkembang dan cepat tenggelam, meskipun lahirnya PNI baru lebih diam (mencari aman). Sejatinya hanya satu kata yaitu Merdeka dari tangan penjajah. Namun pada hari ini, kita belum merdeka dalam hal politik, ekonomi, sosial, budaya.
PNI bergerak dengan semangat nasionalis dengan basis masanya apalagi kaum Marhenisme. Partai politik buatan Soekarno ini melintasi perjalanan panjang sejarah Indonesia. PNI yang berdiri pada masa Soekarno ini juga runtuh setelah rezim Soekarno digulingkan. PNI yang telah mengalami berbagai masalah dari pelarangan oleh Pemerintah kolonial, perpecahan dalam tubuh PNI, kembalinya PNI hingga mamenangkan pemilu tahun 1955, dan runtuh pada pemerintahan rezim Soeharto merupakan sebuah catatan panjang partai politik di Indonesia.
Pada masa sekarang mungkin kita juga sering mendengar PNI dalam pemilu belakangan ini, tetapi itu bukanlah PNI yang akan kita bahas pada makalah ini. Pembahasan makalah ini merupakan pembahasan pada PNI semasa Soekarno hidup. Dampak pemikiran Soekarno yang terdapat di PNI ini yang ada pada partai politik Indonesia seperti PDI dan PNI , yang mana tetap mengunakan popularitas Soekarno.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar belakang berdirinya PNI

Soekarno ketika bersekolah di HBS, mondok bersama H.O.S Cokroaminoto,. Tahun 1921 menamatkan HBS, kemudian menikah dengan anak Cokroaminoto. Soekarno melanjutkan ke Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoge School) di Bandung. Kemudian beliau menikahi Inggit Ganarsih (isteri pemilik pondok), dan menceraikan Puteri Cokroaminoto.
Pada bulan November 1925, tahun terakhirnya ia menyelesaikan studinya, membantu mendirikan Algemeene Studieclub “ kelompok belajar umum” di kalangan mahasiswa. Kelompok belajar-nya Soekarno nyata bersifat politik, dengan kemerdekaan Indonesia sebagai tujuannya. Pada tanggal 4 Juli 1927 berdirilah di kota Bandung atas usaha Dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Ir. Soekarno, Mr. Iskaq Cokroadisoerjo, Mr. Sartono, Mr. Boediarto, Mr. Soenarjo, Dr. Samsi, Ir. Anwari dan lainnya, “Perserikatan Nasional Indonesia” atau PNI. Menarik perhatian bahwa peresmian berdirinya PNI berlangsung pada tanggal 4 Juli 1927. Tanggal kelahiran PNI jelas bukan suatu kebetulan. Almarhum Adam Malik dalam bukunya Adam Malik Mengabdi RI pernah menjelaskan bahwa pilihan tanggal 4 Juli ada kaitannya dengan hari kemerdekaan Amerika Serikat.
Sejarah mencatat proklamasi kemerdekaan Amerika berlangsung pada tanggal 4 Juli 1776 di Philadelpia. Dengan memilih 4 Juli sebagai hari berdirinya PNI, para pemimpin PNI berharap semangat, siasat dan keberhasilan revolusi kemerdekaan Amerika akan mengilhami semangat, siasat dan keberhasilan perjuangan bangsa Indonesia di bawah pimpinan PNI. Bung Karno berharap bangsa Indonesia dapat bersatu padu, karena hanya dengan cara begitu mereka dapat menang menghadapi penjajah. Untuk itu paham atau ideologi yang berbeda perlu dipersatukan lewat persamaan-persamaan yang ada. Demikianlah Bung Karno pada tahun 1926 mengajak pendukung ideologi Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme untuk dapat dan mau bersatu. Perbedaan- perbedaan yang ada mestinya dikesampingkan.
Asas dan tujuan partai ini sangat jelas yaitu perjuangannya yang bersifat antikolonialisme nonkooperasi, dan organisasi massa. Maka dalam hubungan itu membangkitkan kesadaran nasional adalah salah satu tugas PNI, yaitu mengsinyafkan rakyat akan besarnya penderitaan dalam menghadapi eksploitasi ekonomi, sosial, dan politiknya yang dijalankan oleh penguasa kolonial.
Kemudian tujuan ini hendak dicapai dengan azas ”selfhelp” dengan menimbulkan suatu pergerakan rakyat yang sadar, yang percaya atas tenaga dan kekuatan sendiri. Di dalam keterangan azasnya diterangkan bahwa susunan masyarakat Indonesia, baik dalam aspek politik, ekonomi dan sosial sudah dirusak oleh kapitalisme-imperialisme, dirusak oleh penjajahan.
Maka jalan satu-satunya adalah untuk memperbaiki susunan masyarakat yang sudah rusak itu ialah dengan mencapai terlebih dahulu kemerdekaan politik yang berarti berakhirnya pengaruh perusak kapitalisme imperialisme yang berbuntut penjajahan. Dengan demikian seluruh tenaga nasional akan dikerahkan untuk mencapai kemerdekaan politik, untuk melaksanakan cita-cita Indonesia Merdeka.

Perkembangan PNI
PNI lahir sebagai tanda kesadaran kesadaran rakyat Indonesia dan sebagai kelanjutan pergerakan kebangsaan Indonesia yang sudah dirintis oleh organisasi sosial politik sebelumnya. PNI didirikan dan dipimpin oleh kaum muda yang terpelajar dan telah mendapatkan pendidikan politik melalui kursus-kursus politik maupun buku-buku pergerakan. Sebagian mereka adalah mantan anggota Perhimpunan Indonesia (PI) yang belajar di Negeri Belanda. Setelah dipecat dari Perhimpunan Indonesia di Belanda oleh kader-kader komunis (seperti Rustam Effendi, Setiadjid dan Abdul Madjid)
Program Kerja PNI antara lain pendirian koperasi, memberantas riba, mandat dan judi, meningkatkan kesehatan, membuka sekolah-sekolah, memperbaiki status wanita, dan meningkatkan perdagangan dan perusahaa pribumi, namun karena konsentrasi pada tujuan politik membawa akibat bahwa soal-soal ekonomi, sosial, dan kultural kurang mendapat perhatian.
Dalam kongres di Surabaya tanggal 27-30 Mei 1928, diputuskan untuk mengganti perkataan ”perserikatan” menjadi perkataan ”partai”. Perkumpulan selanjutnya akan disebut ”Partai Nasional Indonesia” atau dikenal sebagai PNI. Pergantian nama ini berarti meningkatnya PNI menjadi suatu organisasi yang lebih tersusun, menjadi suatu partai politik yang harus mempunyai program politik, ekonomi, dan sosial yang tertentu dan berhati-hati dalam penerimaan anggota.

Di dalam kongres ini ditentukan pula suatu daftar usaha yang memuat dalam hal :
A. Politik
1. Memperkuat perasaan kebangsaan dan perasaan persatuan Indonesia.
2. Menyebarkan pengetahuan dan ilmu tentang sejarah nasional dan memperbaiki hukum nasional.
3. Mempererat perhubungan antara bangsa-bangsa di Asia.
4. Menuntut kemerdekaan diri, kemerdekaan pers, dan kemerdekaan berserikat dan berkumpul
B. Ekonomi
1. Berusaha untuk mencapai perekonomian nasional yang dapat berdiri sendiri
2. Menyokong perdagangan dan perindustrian nasional
3. Mendirikan Bank Nasional dan koperasi-koperasi untuk mencegah riba.
C. Sosial
1. Memajukan pengajaran nasional
2. Memperbaiki kedudukan kaum wanita
3. Memajukan sarekat-sarekat buruh dan Tani
4. Memperbaiki kesehatan rakyat
5. Mengajukan monogami.

Popularitas PNI berkembang pesat karena pengaruh Soekarno dengan pidato-pidatonya yang sangat menarik perhatian rakyat. Kewibawaan dan gaya bahasa sebagai alat bagaimana pidato-pidato Soekarno sangat ditunggu-tunggu disetiap pertemuan rapat PNI. Pada akhir tahun 1928 sudah ada 2787 orang anggotanya, sampai Mei 1929 anggotanya telah mencapai 3860 orang (sebagian besar di Bandung, Batavia, dan Surabaya); pada akhir tahun 1929, jumlah anggota partai ini mencapai 10.000 orang.
Soekarno menekadkan untuk mengejar Indonesia Merdeka di bawah panji-panji Merah Putih Kepala Banteng (Merah-keberanian, Putih-kebersihan hati, Kepala Banteng-percaya kepada kekuatan dan tenaga sendiri).
Usaha propaganda dilakukan dengan membentuk serikat sekerja supir ”Persatuan Motoris Indonesia”, Serikat Anak Kapal Indonesia”, Persatuan Jongos Indonesia”
Partai Sarekat Islam, Budi Utomo, Study Club Surabaya, serta organisasi-organisasi kedaerahan dan kristen yang penting bergabung bersama PNI dalam suatu wadah yang dikenal sebagai PPKI (Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia). Gagasan nasionalisme seluruh Indonesia sebagai ukuran umum kini muncul semakin kuat. Maka para pemimpin terpelajar kelompok-kelompok suku bangsa dan kedaerahan menerima konsep itu antara lain sebagai alat untuk mempertahankan diri dari dominasi suku Jawa yang potensial, sedangkan kelompok-kelompok Kristen memandang konsep tersebut antara lain sebagai alat untuk mempertahankan diri dari dominasi Islam.
Namun perbedaan-perbedaan, tujuan, ideologi, dan kepribadian yang nyata masih tetap memecah belah gerakan-gerakan tersebut. PSI yang berganti nama menjadi PSII keluar dari PPKI, karena kelompok-kelompok menolak untuk mengakui peranan utama Islam yang oleh para pemimpin Islam perkotaan.
Bagi PNI, untuk memperoleh pergerakan rakyat yang sadar, maka perkumpulan perlu mempunyai azas yang terang dan jelas, perlu mempunyai suatu teori nasionalisme yang radikal yang dapat menimbulkan kemauan yang satu, yaitu kemauan nasional. Bila kemauan nasional ini cukup tersebar dan masuk mendalam di hati sanubari rakyat, maka kemauan nasional ini menjadi suatu perbuatan, yaitu perbuatan nasional (nationale geest-nationale wil-nationale daad). Dan di dalam anggaran dasar PNI dicantumkan maksud dan tujuannya secara tegas, yaitu Indonesia Merdeka. Ini berarti PNI mengambil jalan non-kooperatif dengan pemerintah Hindia Belanda.
Masa-masa awal sangat dipengaruhi oleh ideologi PNI dan mentalitas
PNI dalam membentuk mesin birokrasi dan mengerahkan massa. Maka, disinilah arti
penting PNI-Birokrasi menjadi eksis dalam percaturan politik yang
terjadi Indonesia.
Melihat aktifitas politik PNI yang semakin meningkat, pemerintah Hindia Belanda memberi peringatan kepada pimpinan PNI pada tanggal 15 Mei 1928 di sidang pembukaan “Volksraad” yang diucapkan oleh Gubernur Jenderal de Graeff untuk menahan diri.
Meski ada peringatan dari pemerintah Hindia Belanda, PNI tetap terus melakukan kegiatan politiknya, salah satunya adalah dengan menyelenggarakan kongres yang pertama. Pada kongres yang diadakan di Surabaya, tanggal 27-30 Mei 1928, PNI memutuskan merubah namanya menjadi “Partai Nasional Indonesia”. Perubahan nama ini berarti meningkatnya PNI menjadi suatu organisasi yang lebih tersusun rapi, menjadi suatu partai politik yang harus mempunyai program politik, ekonomi dan sosial yang lebih baik dan berhati-hati dalam penerimaan anggota. Sebagai anggota hanya dapat diterima orang-orang yang sadar dan aktif.
Di kongres kedua yang diadakan di Jakarta tanggal 18-20 Mei 1929, ketua PNI Bung Karno memberikan pidato yang berapi-api di depan peserta kongres. Bung Karno memantapkan kebulatan hati anggota PNI untuk mengejar Indonesia Merdeka dibawah panji-panji “Merah-Putih-Kepala Banteng”. Merah berarti keberanian, putih kebersihan hati sedangkan kepala banteng berarti percaya pada kekuatan dan tenaga sendiri.
Media Propaganda PNI
Pemerintah Hindia Belanda yang semakin hari bertambah cemas melihat pengaruh yang diperoleh PNI dimana-mana, mulai menunjukkan tangan besi. Soekarno yang juga menulis berbagai tulisan yang menyerang Belanda. Soeloeh Indonesia Moeda, Persatoean Indonsesia dan Fikiran Ra’jat. Dari media tulis menulis inilah Soekarno mencurahkan segala ide tentang nasionalisme, antiimperialisme, dan antikolonialisme hingga ide yang di gandrunginya, sosialisme. Tetapi dari ketiga surat kabar tersebut Fikiran Ra’jat yang ditujuakan untuk kaum Marhaen yang paham membaca dan menulis.
Tujuan Seokarno menulis di media tersebut adalah untuk memompa semagat nasionalisme dikalangan rakyat untuk menentang imperialisme dan kolonialisme di Tanah air. Kaum Marhaen di Fikiran Ra’jat dicirikan sebagai masyarakat miskin, buruh terbodohkan dan terjajah, mereka adalah masyarakat yang harus bangkit dari keterpurukannya untuk lahir kembali sebagai manusia yang merdeka di tanahnya sendiri.
Bung Karno dan Gatot Mangkoepraja, setelah selesai menghadiri kongres PPPKI (Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangasaan Indonesa) yang kedua di Solo pada tanggal 29 Desember 1929 ditangkap pemerintah Hindia Belanda. Kemudian mereka dibawa ke Bandung dengan penjagaan yang ketat kemudian ditempatkan di penjara Sukamiskin. Begitu pula dengan beberapa pimpinan teras PNI lainnya. Setelah itu mereka diadili di pengadilan landrad di bandung, yang menghasilkan suatu pidato pembelaan soekarno yang sangat terkenal yaitu “Indonesia Menggugat”.
Tuduhan yang dikenakan pemerintah Hindia Belanda adalah pasal karet, haatzai artikelen. Mereka dituduh menggangu keamanan dalam negeri dan hendak melakukkan pemberontakan sehingga melanggar artikel 10 buku hukum pidana dan artikel 163 bis ter buku hukum pidana. Dan juga artikel 171 undang-undang hukum pidana tentang menyiarkan kabar dusta untuk mengangu ketertiban umum.
Perpecahan di Tubuh PNI
Sesudah Bung Karno ditahan, dan dijatuhi hukuman selama 4 tahun kepemimpinan PNI diambil alih oleh Mr. Sartono. Setelah melalui kongres pada bulan Februari 1931 di Jakarta, Pengurus Besar PNI mengeluarkan maklumat tentang pembubaran PNI dengan alasan untuk menjaga anggota-anggota PNI lainnya agar tidak mendapatkan kesulitan karena dituduh sebagai anggota partai terlarang.
Pengurus besar PNI atas anjuran Mr. Sartono, berkenaan dengan keputusan pengadilan negeri Bandung tersebut, mengusulkan pembubaran PNI dan sebagai gantinya mereka mendirikan Partai Indonesia (Partindo). Partai ini bertujuan Indonesia Merdeka dan berdiri atas dasar nasionalisme dan “self-help” atau yang lazimnya dikenal sebagai sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Ketika Bung Karno keluar dari penjara Sukamiskin pada pertengahan 1932, ia mendapati PNI (lama) telah terpecah menjadi dua yaitu PNI (Baru) dan Partindo. Namun akhirnya Bung Karno memilih Partindo sebagai basis perjuangannya.
Walaupun begitu ia tidak puas melihat perkembangan partai itu, apalagi ia mendengar adanya desas-desus bahwa PNI baru juga bermaksud menggunakan nama lama itu. Ia mengusulkan kepada Badan Pengurus partindo pada bulan Maret 1933 agar merubah namanya menjadi Partai Nasional Indonesia. Tujuannya adalah untuk memperluas jumlah cabang Partindo, dalam persaingan dengan PNI baru. Pada waktu itu, kepemimpinan partai nasionalis terpecah dua, yaitu Soekarno/Sartono bersaing dengan Hatta/Syahrir. Bagi Soekarno pribadi, hanya dia yang berhak menggunakan nama asli itu, sebab itu adalah partainya.
Walaupun ia gagal mengubah nama partai itu, tetapi ideologi Marhaenisme yang merupakan rumusan orsinal yang diperkenalkan Soekarno. Secara resmi diterima sebagai dasar-dasar politik partai dalam kongres bulan Juli 1933. Ideologi itu tidak menunjukkan adanya perubahan penting dalam pemikiran politik Soekarno, hanya sekadar menghaluskan ide-idenya tentang politik, sosial dan ekonomi yang dikemukakan sejak tahun 1927 sejalan dengan arus utama gerakan nasionalis sekuler.
Namun demikian kejadian tersebut ditentang oleh beberapa tokoh PNI lainnya seperti Soedjadi Moerad, Kantaatmaka, Bondan, Soekarto dan Teguh. Mereka menolak bergabung dengan Partindo dan membentuk dalam daerahnya masing-masing “Golongan Merdeka”.

Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-baru)
Soedjadi Moerad yang sudah lama berkorespondensi dengan Hatta yaitu sejak sebelum didirikannya PNI (tanggal 4 Juli 1927) menyampaikan sikap mereka kepada Hatta, yaitu tentang bubarnya PNI dan pembentukan “Golongan Merdeka”. Bagi Hatta pembubaran PNI melemahkan pergerakan rakyat.
Mohammad Hatta kemudian membuat kesepakatan dengan Soedjadi Moerad, untuk menerbitkan majalah yang diterbitkan sekali dalam 10 hari guna pendidikan kader baru. Hatta mengusulkan majalah itu diberi nama “Daulat Rakjat”, yang mempertahankan asas kerakyatan yang sebenarnya dalam segala susunan politik, perekonomian dan pergaulan sosial. Kemudian Hatta dan Sjahrir bermufakat agar Sjahrir pulang ke Indonesia pada Bulan Desember 1931 untuk membantu “Golongan Merdeka” serta membantu “Daulat Rakjat”.
Pada tanggal 25-27 Desember 1931 (menurut Soebadio Sastroastomo diadakan pada bulan Februari 1932) sebuah konferensi diadakan di Yogyakarta untuk merampungkan penyatuan golongan-golongan Merdeka yang mana kelompok tersebut kemudian diberi nama Pendidikan Nasional Indonesia atau yang dikenal sebagai PNI-Baru dengan Soekemi sebagai ketuanya. Sjahrir terpilih sebagai ketua cabang Jakarta dan sekretaris cabangnya adalah Djohan Sjahroezah.
Kemudian dalam Kongres Pendidikan Nasional Indonesia bulan Juni 1932 yang berlangsung di Bandung Sjahrir terpilih menjadi Pimpinan Umum Pendidikan Nasional Indonesia menggantikan Soekemi. Dalam kongres itu dirumuskan bahwa PNI Baru sebagai suatu partai politik merupakan partai kader. Keputusan bahwa PNI Baru adalah sebagai partai kader setelah mengalami diskusi yang cukup panjang dan rumit yang pada akhirnya argumentasi Sjahrir yang cukup kuat untuk membawa PNI Baru sebagai partai kader dapat diterima oleh sebagian besar pengurus. Dan dengan pulangnya Hatta pada awal tahun 1933, Pimpinan Umum PNI Baru diserahkan oleh Sjahrir kepada Hatta.
Dimasukkannya kata “Pendidikan” ke dalam nama partai mengandung maksud yang serius. Sebagian besar kegiatan partai ini adalah menyelenggarakan pendidikan politik bagi para anggotanya, yang sebagian dilakukan melalui halaman-halaman “Daulat Rakjat” dan tulisan-tulisan lain, termasuk risalah “Kearah Indonesia Merdeka”-KIM yang secara khusus ditulis oleh Hatta sebagai semacam manifesto pergerakan itu.
Arah sentral pendidikan diungkapkan ke dalam 150 pertanyaan di dalam KIM yang mencakup banyak aspek politik, ekonomi dan sosial. Beberapa pertanyaan dalam KIM diantaranya :
 Apa tujuan PNI baru ?
 Apa yang dimaksud dengan nasionalisme ?
 Apa yang dimaksud dengan demokrasi ?
 Apa itu parlemen ?
 Apa yang dimaksudkan oleh Montesqieu dengan otokrasi, oligarki dan revolusi ?
 Siapakah Rousseau dan apa yang diajarkannya ?
 Apa itu Revolusi Industri ?
 Apakah kartel itu ?
 Bagaimana sifat kombinasi vertikal ? Bagaimana pula kombinasi horisontal ?
 Dan lainnya
Secara keseluruhan, jawaban-jawaban itu mengandung suatu doktrin yang jelas walaupun sederhana, bahwa kekuasaan politik didistribusikan menurut distribusi kekuasaan ekonomi dalam suatu masyarakat, bahwa kebebasan politik tanpa persamaan di bidang ekonomi sangatlah terbatas dan bahwa kemerdekaan Indonesia baru merupakan realita jika disertai perubahan ekonomi, sebagaimana pertanyaan (kunci) sebagai berikut,
“Mengapa demokrasi politik saja tidak cukup ?”. Jawabannya, “Demokrasi politik saja tidak cukup karena ia akan dilumpuhkan oleh otokrasi yang masih ada di bidang-bidang ekonomi dan sosial. Mayoritas rakyat masih menderita di bawah kekuasaan kaum kapitalis dan majikan”.
Suasana dalam kursus-kursus yang diselenggarakan oleh Pendidikan Nasional Indonesia dan kesungguhan anggota-anggotanya mengingatkan banyak orang kepada “Workers Educational Association” (WEA-Perhimpunan Pendidikan Kaum Buruh) yang berusaha memberikan pendidikan kepada masyarakat Inggris pada akhir abad 19. WEA mempunyai ikatan-ikatan yang kuat dengan gerakan Fabian dan sebagian kegiatannya adalah memberikan pendidikan sosialis.
Meskipun anggota PNI Baru bukan terdiri dari kelas pekerja, karena sebagian besar mereka adalah berpendidikan menengah, namun mereka menginginkan suatu pendidikan politik yang berwarna sosialis yang akan membawa mereka melampaui batas-batas gaya agitasi nasionalisme yang sempit. Dengan cara ini, PNI Baru, dibawah kepemimpinan Hatta dan Sjahrir, mengembangkan suatu pandangan dunia yang khas dan suatu cara yang unik dalam membahas masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh pergerakan kebangsaan.
Yang pasti PNI Baru memiliki pandangan yang berbeda dengan PNI Lama ataupun Partindo. PNI Baru bersikap kritis dengan terhadap watak PNI Lama dan Partindo seperti gaya agitasi yang ekspresif dan mempertahankan persatuan nasional tanpa syarat. Bagi Hatta dan Sjahrir, persatuan tidak ada artinya kecuali apabila didasarkan pada pengertian atas prinsip-prinsip bersama.
PNI Baru banyak berhutang kepada tradisi sosial demokrasi Eropa. Ciri khasnya adalah pengutamaan terhadap teori sosial sebagai suatu pedoman aksi, adanya koherensi pada pandangan dunianya yang merangkul analisis-analisis tentang kapitalisme, imperialisme dan munculnya fasisme yang saling melengkapi dan berusaha untuk menempatkan kemalangan Indonesia dalam suatu gambaran global. Tentu saja harus diakui bahwa sejauh menyangkut analisis-analisisnya mengenai imperialisme dan tatanan sosial, PNI Baru tidak memiliki monopoli ideologis.
Kesadaran diri akan perjuangan melawan kapitalisme, imperialisme dan fasisme melalui kegiatan intelektual masih mempunyai arti penting pada tahun 1948 ketika anggota-anggota PNI Baru yang masih hidup, bersama-sama dengan orang yang sependirian dan generasi yang lebih muda keluar dari Partai Sosialis untuk mendirikan PSI.
Karena kegiatan aktivitas politik PNI Baru yang dinilai mulai membahayakan bagi pemerintah kolonial Belanda maka pada tanggal 25 Februari 1934 jajaran teras PNI Baru seperti Hatta, Sjahrir, Bondan, Burhanuddin, Murwoto, Soeka, Hamdani, Wangsawidjaja, Basri, Atmadipura, Oesman, Setiarata, Kartawikanta, Tisno, Wagiman dan Karwani ditangkap. Sekitar bulan Januari 1935, Hatta, Sjahrir dan beberapa pimpinan PNI Baru diasingkan ke Boven Digoel.
PNI Setelah Kemerdekaan
Setelah Indonesia mencapai kemerdekaan. Dengan adanya Maklumat Pemerintah, yang menginginkan timbulnya partai-partai politik untuk menampung aspirasi yang berkembang di dalam masyarakat. Maka sejak itu berdirilah berbagai organisasi, salah satunya adalah Partai Nasional Indonesia, bukanlah partai yang didirikan dulu pada masa kekuasaan kolonial dan juga bukan partai tunggal yang direncanakan sebagai partai negara, seperti biasanya dilakukan negara-negara berkembang dalam membangun bangsa dan negara. berkembang menjadi Partai Priyayi. PNI pada dekade 1950-an menjadi Partai yang selalu mendominasi struktur kabinet.
Dari sanalah kemudian PNI menjadi ikon Partai Pemerintah” apapun yang berbau PNI selalu diartikan sebagai `karir dan kelas elite masyarakat Indonesia’. Walaupun PNI gaya baru ini tidak seradikal PNI masa muda Bung Karno, setidak-tidaknya di jaman ini PNI memberi sumbangan pada gaya hidup, agen pensuplai mesin birokrasi yang solid di tengah tidak stabilnya struktur kabinet dan penggerak getar romantika patriotisme ala Sukarno.
Dalam perkembangannya internal ideologi PNI memencar ke dalam spektrum yang luas, dari Nasionalisme kanan sampai Nasionalisme kiri. PNI kanan kerap dikenang sebagai PNI “berkarakter Hardi”.Sementara PNI garis keras, bersimpati pada gerakan kiri adalah PNI berkarakter Ali Sastroamidjojo”.Spektrum Ali-Hardi inilah yang kemudian mewariskan bentuk PNI dan beberapa dinamika internal Partai sepanjang 1950-an sampai awal 1973 ketika PNI.
Walaupun begitu, PNI memperoleh keuntungan banyak dengan mengaitkan namanya dengan Soekarno dan juga dengan adanya konotasi dengan nama Partai Nasional Indonesia yang direncanakan sebagai Partai Pelopor (partai tunggal) yang tidak jadi didirikan itu. Sebagian besar anggota partai itu adalah mantan anggota PNI lama, mereka masuk ke dalamnya karena dianggap mempunyai kesesuaian dengan PNI lama dan mereka mengharapkan bahwa partai baru itu mempunyai sebagian martabat PNI lama.
Dalam keadaan seperti itulah partai politik itu berkembang selama revolusi fisik dan mencapai puncak pada tahun 1955. Untuk melihat kekuatan yang nyata dari partai-partai politik yang tumbuh seperti jamur itu, maka diadakanlah Pemilihan Umum tahun itu juga. Ternyata Partai Nasional Indonesia memperoleh suara terbanyak di antara kontestan yang lainnya berkat usaha PNI selalu mendekatkan diri dengan Presiden Soekarno, yang dikenal sebagai pendiri PNI lama dan pencetus ajaran marhaenisme yang menjadi asas partai. Tetapi yang jelas, melalui identifikasi dengan Soekarno, merupakan faktor kunci dalam meningkatkan hubungan dengan massa pendukungnya.
Ketergantungan semacam itu diperlihatkan kembali, ketika diadakan kongres PNI kesembilan di Solo tahun 1960, Soekarno menginginkan agar PNI mengikuti segala kebijakan yang dijalankan pemerintah. Keinginan tersebut jelas menunjukkan betapa rapat hubungan antara Soekarno dengan PNI. Tentu saja hubungan tersebut merupakan hubungan saling menguntungkan kedua belah pihak. PNI memperoleh dukungan rakyat akibat identifikasi dengan Soekarno, sebaliknya Soekarno meminta imbalan berupa dukungan terhadap kebijakan dalam pemerintahan Soekarno.

Apalagi kalau kita mendengar pernyataannya ia meminta agar marhaenisme yang dijadikan ideologi PNI, disesuaikan dengan apa yang dimaksudnya. Akhirnya dalam perkembangannya masalah ideologi itu menjadi polemik yang berkepanjangan, sehingga menimbulkan pertentangan dalam tubuh organisasi itu. Yang jelas menurut permintaan Soekarno, seperti yang dilakukan PNI merumuskan ideologi tersebut, hanya menunjukkan bahwa betapa besar ketergantungannya terhadap Presiden Soekarno.
Setelah kejatuhan Soekarno, PNI menjadi bulan-bulanan kekuatan politik lain, akibat hubungannya dengan Soekarno. Usaha membuat PNI kembali menjadi suatu partai yang berpengaruh terhadap jalannya sejarah republik ini. Dengan diadakan kongres kedua belas pada bulan April di Semarang, yang merupakan kongres pertama pada masa pemerintahan Soeharto. Justru dalam kongres itu malah terjadi perpecahan dalam kubu PNI berkaitan dengan jalan apa yang harus ditempuh untuk memenuhi ambisinya. PNI jadi dua kubu: Kelompok pragmatis yang menginginkan pendapat sedikit pengaruh dalam pemerintahan, berusaha mengandalkan kerja sama dengan pemerintahan Soeharto. Sebaliknya kelompok ideologi menolak segala campur tangan luar dan lebih memperhatikan ideologi marhaenisme sebagai identitas partai.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
PNI adalah entitas yang dinamis karena pertentangan berbagai unsur di dalamnya. PNI adalah Jawasentris dan sekuler, tetapi mencakup unsur non-Jawa dan Islam. Kelompok birokrat priayi, lapisan sosial atas berpendidikan Barat, dan Berbeda dengan agama yang disatukan oleh konsep “umat” atau komunisme yang mewadahi perjuangan kelas proletar, nasionalisme memiliki kontradiksi karena penyatuan rakyat dilakukan bukan atas nama mereka, tetapi atas nama bangsa dan negara dengan sebuah identitas primordial.
Lalu partai nasionalis sering mencari figur karismatis untuk menyatukan pengikutnya. Pendukungnya yang memiliki beragam identitas primordial dan kelas sosial menemukan wadah kulturalnya, yakni budaya feodal yang masih berakar kuat. Sehingga kita dapat melihat bagaimana Soekarno menjadi jantung dari pergerakan PNI. PNI langsung kehilangan pamornya ketika Soekarno ditangkap .
Pada era 1950-an, PNI melakukan propaganda dengan menyebut Soekarno sebagai pemimpin PNI, padahal itu terjadi pada era 1920-an. Kedekatan PNI dengan soekarno membuat PNI mendapatkan dukungan yang besar dari rakyat Indonesia . PNI berhasil memenangkan pemilu pertama dan juga mendapatkan posisi strategis dipemerintahan. Itu semua tidak lepas dari nama besar soekarno sebagai pendiri PNI. Sehingga PNI dapat di Identikan dengan Seokarno.

Daftar Pustaka
Kartodirjdo, Sartono. 1993. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Jilid II Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Lubis, L.M. 1987. Sejarah Pergerakan dan Kemerdekaan Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat
Rahzen ,Taufik. Tahah Air Bahasa. Seratus Jejak Pers Indonesia. (I:boekoe):Jakarta.2007
Ricklef, M.C.2001. Sejarah Indonesia Modern Jakarta : Serambi Ilmu Semesta
Ricklefts, M.C. Sejarah Indonesia Modern. Gadjah Mada University Press:Yogyakarta 1991

Partai Nasionalis Indonesia (PNI)

Posted by : Unknown on :Thursday, March 3, 2016 With 0comments
Tag :

Latar Belakang berdirinya Sarekat Islam

|
Read more »
Latar Belakang berdirinya Sarekat Islam

       Tiga tahun setela berdirinya Budi Utomo,maka pada tahun 1911 didirikanlah perkumpulan pedagang-pedagang Islam yang awalnya  diberinama Sarekat  Dagang Islam (SDI) di kota Solo oleh Haji Samanhudi. Haji Samanhudi sendiri adalah seorang pengusaha batik di Kampung Lawean (Solo) yang mempunyai banyak pekerja. Perkumpulan ini semakin berkembang pesat ketika Tjokroaminoto memegang tampuk pimpinan dan mengubah nama perkumpulan itu menjadi Sarekat Islam.Kata “Dagang” dalam Serikat Dagang Islam dihilangkan dengan maksud agar ruang geraknya lebih luas tidak dalam bidang dagang saja. 


       Pada periode antara tahun 1911-1923 Sarekat Islam menempuh garis perjuangan parlementer dan evolusioner. Artinya, Sarekat Islam mengadakan politik kerja sama dengan pemerintah kolonial. Namun setelah tahun 1923, Sarekat Islam menempuh garis perjuangan nonkooperatif. Artinya, organisasi tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial, atas nama dirinya sendiri.
 Latar belakang dibentuknya perkumpulan ini adalah reaksi terhadap monopoli penjualan bahan baku oleh pedagang China yang dirasakan sangat merugikan pedagang Islam. Namun, para pendiri Sarekat Islam mendirikan organisasi itu bukan hanya untuk mengadakan perlawanan terhadap orang-orang Cina namun untuk membuat front melawan penghinaan terhadap rakyat bumi putera.Juga merupakan reaksi terhadap rencana krestenings politik (politik pengkristenan) dari kaum Zending,perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan dan penindasan-penindasan dari pihak ambtenar bumi putera dan Eropa.Pokok utama perlawanan Sarekat Islam ditujukan terhadap setiap bentuk penindasan.Jadi dapat disimpulkan yang melatarbelakangi berdirinya Sarekat Islam(SI) yaitu :
1. Faktor ekonomi, yaitu untuk memperkuat diri menghadapi Cina yang mempermainkan penjualan bahan baku batik
2. Faktor agama, yaitu untuk memajukan agama Islam.

Tujuan utama SI pada awal berdirinya adalah menghidupkan kegiatan ekonomi pedagang Islam Jawa. Keadaan hubungan yang tidak harmonis antara Jawa dan Cina mendorong pedagang-pedagang Jawa untuk bersatu menghadapi pedagang-pedagang Cina. Di samping itu agama Islam merupakan faktor pengikat dan penyatu kekuatan pedagang-pedagang Islam.

Adapun Tujuan Serikat Islam(SI) di tinjau dari anggaran dasarnya meliputi:
1. Mengembangkan jiwa dagang,
2. Membantu para anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha,
3. Memajukan pengajaran dan semua usaha yang menaikkan derajat rakyat bumiputera
4. Menentang pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam, dan
5. Hidup menurut perintah agama.


Perkembangan Sarekat Islam

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan Serikat Islam cepat berkembang adalah:
a) Kesadaran sebagai bangsa yang mulai tumbuh,
b) Sifatnya kerakyatan,
c) Didasari agama Islam,
d) Persaingan dalam perdagangan, dan
e) Digerakkan para ulama.

Pemerintah Hindia Belanda merasa khawatir terhadap perkembangan SI yang begitu pesat karena mengandung unsur-unsur revolusioner.SI dianggap membahayakan kedudukan pemerintah Hindia Belanda, karena mampu memobilisasikan massa.Sehingga puhak Hindia Belanda mengirimkan salah seorang penasihatnya kepada organisasi tersebut. Gubernur Jenderal Idenburg meminta nasihat dari para residen untuk menetapkan kebijakan politiknya.Hasil sementaranya SI tidak boleh berupa organisasi besar dan hanya diperbolehkan berdiri secara lokal.

Penulis D.M.G.Koch mengemukakan adanya aliran didalam tubuh SI yang bersifat islam fanatik yaitu golongan yang bersifat menentang keras dan yang lainnya yaitu golongan yang hendak berusaha untuk maju secara bertahap hanya mengandalkan bantuan pemerintah.Sedangkan menurut Suwardi Suryaningrat(Ki Hajar Dewantara) ia mencatat bahwa sehubungan dengan jalan diplomatis yang ditempuh oleh organisasi itu,maka lambat laun unsur memberontak menjadi berkurang.Namun,apabila terdapat perlakuan tidak adil kepada rakyat Indonesia begitu jelas,maka sifat kerohanian SI tetap demokratis dan militan(sangat siap berjuang untuk melakukan perlawanan).Beberapa aspek perjuangan terkumpul menjadi satu dalam tubuh SI sehingga ada yang menamakan SI itu adalah “gerakan nasionalistis-demokratis-ekonomis”.

Pada kongres Sarekat Islam di Yogayakarta pada tahun 1914, HOS Tjokroaminoto terpilih sebagai Ketua Sarekat Islam. Ia berusaha tetap mempertahankan keutuhan dengan mengatakan bahwa kecenderungan untuk memisahkan diri dari Central Sarekat Islam harus dikutuk dan persatuan harus dijaga karena Islam sebagai unsur penyatu.
Pada tahun 1914 juga berdiri organisasi berpaham sosialis yang didirikan oleh Sneevlit, yaitu ISDV (Indische Social Democratische Vereeniging). Namun organisasi yang didirikan orang Belanda di Indonesia ini tidak mendapat simpati rakyat, oleh karena itu diadakan “Gerakan Penyusupan” ke dalam tubuh Serikat Islam yang akhirnya berhasil mempengaruhi tokoh-tokoh Serikat Islam muda seperti Semaun, Darsono, Tan Malaka, dan Alimin.
Politik Kanalisasi Idenburg cukup berhasil, karena Sarekat Islam baru diberi pengakuan badan hukum pada bulan Maret 1916 dan keputusan ini diambil ketika ia akan mengakhiri masa jabatannya.Sementara itu,Idenburg digantikan oleh Gubernur Jenderal van Limburg Stirum (1916-1921).Jenderal Van Limburg baru bersikap agak simpatik terhadap Sarekat Islam.

Namun sebelum Kongres Sarekat Islam Kedua tahun 1917 yang diadakan di Jakarta .Muncul aliran revolusioner sosialistis(bercorak demokratis) yang selalu siap berjuang dipimpin oleh Semaun dan Darsono yang merupakan pelopor penggunaan senjata dalam berjuang melawan imperialisme yaitu teori perjuangan Marx. Pada saat itu Semaun menduduki jabatan ketua pada SI lokal Semarang.Timbulah pertentangan antara pendukung paham Islam dan paham Marx sehingga terjadilah perdebatan antara H.Agus Salim-Abdul Muis dengan pihak Semaun.Dalam Kongres itu diputuskan pula tentang keikutsertaan partai dalam Voklsraad(Dewan Rakyat).Dengan HOS Tjokroaminoto (anggota yang diangkat) dan Abdul Muis (anggota yang dipilih) mewakili Sarekat Islam dalam Volksraad tersebut.

Pada Kongres Sarekat Islam ke tujuh Tahun 1921 di Madiun SI mengubah namanya menjadi PSI (Partai Sarekat Islam). Tahun 1921,Sarekat Islam pecah menjadi dua ketika cabang SI yang mendapat pengaruh komunis yaitu golongan kiri(paham Marx)dapat disingkirkan,lalu menamakan dirinya bernaung dalam Sarekat Rakyat(SR) atau Sarekat Islam Merah  yang merupakan organisasi dibawah naungan Partai Komunis Indonesia(PKI) dipimpin oleh Semaun  sedangkan Sarekat Islam Putih dipimpin oleh Cokroaminoto dengan anggotanya yaitu SI awal .Sejak itu, SI dan SR berusaha untuk mencari dukungan dari massa dan keduanya cukup berhasil.

      Kongres Partai Sarekat Islam tahun 1927 menegaskan struktur partai yang kuat bahwa tujuan perjuangan adalah mencapai kemerdekaan nasional berdasarkan agama Islam. Karena tujuannya adalah untuk mencapai kemerdekaan nasional maka Partai Sarekat Islam menggabungkan diri dengan Pemufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI).

Tahun 1928 dan 1929 PSI merasa khawatir atas dominasi Partai Nasionalis Indonesia(PNI) dalam dunia politik dan PSI tidak mampu mencegah kemundurannya secara pelan-pelan.

PSI yang merupakan anggota federasi PPPKI,lambat laun tidak senang terhadap badan federatif itu.Dalam kongres PPPKI akhir bulan Desember 1929 di Solo, Mohammad Husni Thamrin menyatakan bahwa ia sangat keberatan terhadap sikap PSI cabang Batavia yang tidak ikut serta dalam rapat-rapat protes PPPKI terhadap poenale sanctie(sanksi hukuman yang diberikan bila para kuli melanggar kontrak/melarikan diri) yang diadakan bulan september sebelumnya(tahun 1929).Menanggapi kritik itu,maka PSI mengancam akan keluar dari PPPKI.Kemudian salah satu keputusan kongres PSI tahun 1930 adalah mengubah nama PSI menjadi PSII(Partai Sarekat Islam Indonesia).Perubahan itu dilakukan untuk menunjukkan bahwasanya PSII sangat berbakti terhadap pembentukan Negara Kesatuan Indonesia.




Kemunduran PSII

                 Bulan Juli dan Agustus 1930 hubungan PSII dengan golongan nasionalis non agama memburuk dikarenakan terdapat serangkaian tulisan di surat kabar Soeara Oemoem yang ditulis oleh banyak anggota PPPKI.Tulisan-tulisan tersebut ditafsirkan sebagai penghinaan terhadap keyakinan PSII.Hal tersebut menyebabkan tanggal 28 Desember 1929(tidak menunggu kongres) PSII mengumumkan keluar dari PPPKI.Alasannya yaitu karena Pasal 1 Anggaran Dasar PPPKI berlawanan dengan anggaran dasar PSII yang memperbolehkan keanggotaan bagi semua orang islam apa pun kebangsaannya.Juga alasan lainnya karena kelompok studi umum di Surabaya kurang menghormati agama Islam;perkumpulan-perkumpulan lain anggota PPPKI selalu bertengkar karena perkumpulan-perkumpulan itu menentang poligami sehingga PSII pecah menjadi beberapa partai kecil dan PSII selanjutnya menjalin hubungan yang lebih erat dengan organisasi islam lainnya.

            Perselisihan antara anggota pengurus besar partai yairu Cokroaminoto dan H.Agus Salim dengan dr.Sukiman Wiryosanjoyo dan Suryopranoto mengakibatkan perpecahan dalam tubuh PSII.Maka tahun 1933 Dr.Sukiman Wiryosanjoyo dan Suryopranoto dipecat dari PSII.Pertengahan bulan Mei 1933 berdiri partai baru di Yogyakarta bernama Partai Islam Indonesia(Parii).Partai ini bertujuan ke arah harmonis dari nusa bangsa atas dasar agama islam dan pada waktu itu Parii dipimpin oleh dr.Sukiman namun partai ini berumur pendek.Tahun 1935 Cokroaminoto meninggal dunia,dan muncul suara-suara bahwa Parii mau bergabung lagi dengan PSII.Namun,untuk bergabung kembali masih ada halangan karena H.Agus Salim menjadi ketua PSII menggantikan Cokroaminoto.

            Perselisihan dalam partai terus bertambah.H.Agus Salim menghendaki agar PSII bekerjasama dengan pemerintah yang sebelumnya PSII bersikap nonkooperasi yang menyebabkan PSII dibatasi geraknya.Sehingga tanggal 7 Maret 1935 H.Agus Salim mengusulkan agar PSII membuang sikap nonkooperasi. Hal tersebut mengakibatkan perpecahan dalam pimpinan PSII.

                   H.Agus Salim terpilih kembali sebagai Ketua Dewan Partai.Lawan-lawannya yaitu Abikusno Cokrosuyoso dan S.M.Kartosuwiryo. Pada kongres tahun 1936(8-12 Juli)Abikusno terpilih sebagai formatur,akibatnya pengurus terdiri atas orang-orang yang anti kepada H.Agus Salim.Sehingga membuat H.Agus Salim memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai Ketua Dewan Partai.Namun,dia tetap berjanji untuk menyumbangkan segenap teganya untuk tetap bekerja demi kepentingan umat Islam Indonesia.

Untuk melanjutkan cita-citanya itu,tanggal 28 November 1936 di Jakarta dibentuklah golongan yang pro kepada H.Agus Salim yaitu suatu komite oposisi(sebuah komite yang mau bekerjasama dengan pemerintahan kolonial).Komite itu bernama Barisan Penyadar PSII yang dipimpin oleh Muhammad Rum.Tujuannya adalah ingin menyadarkan PSII bahwa zaman ini sudah berubah.Komite itu dengan tegas membantah sikap nonkooperasi PSII dan mereka sendiri menempuh politik kooperasi.Pada tanggal 13 Februari PSII memecat kaum oposisi dengan alasan bahwa tindakan mereka bertentangan dengan hukum dan sumpah partai yang membuat 29 tokoh terkemuka PSII dipecat termasuklah H.Agus Salim.

Selanjutnya kongres ke 23 di Bandung yang diadakan tanggal 19-25 Juli 1937 antara lain memutuskan mencabut pemecatan atas anggota yang telah dikeluarkan dari PSII.Mereka diberi kesempatan untuk kembali ke PSII.Maka,pada 17 September 1937 PSII bersatu kembali dengan partai asal.Mereka yang kembali bergabung ke PSII yaitu dr.Sukiman,Wali Al-Fatah dan lainnya.

Namun perdamaian dengan golongan ini(dr.Sukiman)tidak berlangsung lama.Setelah kongres di Suabaya mereka keluar dari PSII karena tetap tidak setuju dengan politik PSII.Mereka bersedia kembali jikalau PSII: (a)jika PSII mau melepaskan asas hijrah,asas itu tidak boleh dijadikan asas perjuangan melainkan hanya taktik perjuangan; (b) semata mata hanya mengerjakan aksi politik sedang pekerjaan sosial ekonomi harus diserahkan kepada perkumpulan lain; (c) secepatnya mencabut disiplin partai terhadap Muhammadiyah.Namun,PSII menolak permintaan itu.karena penolakan itu maka tanggal 6 Desember 1938 di Solo didirikanlah partai baru bernama Partai Islam Indonesia(PII)  yang diketuai R.M.Wiwoho dengan anggota gabungan dari Parii,Muhammadiyah dan Jong Islamitien Bond(JIB)

Selanjutnya,Kartosuwiryo yang membuat pengurus PSII Marah.Ia telah menulis brosur yang terdiri dari dua jilid tentang hijrah tanpa membicarakannya lebih dulu dengan Abikusno.Kartosuwiryo dan beberapa temannya temannya telah menyatakan bantahannya dengan cara yang dipandang tidak baik atas tindakan PSII menggabungkan diri dalam Gapi.Kartosuwiryo menolak menghentikan penerbitan tulisan itu dan ia mendapat dukungan dari beberapa cabang PSII di Jawa Tengah,sehingga Kartosuwiryo dan 8 cabang PSII di Jawa Tengah dipecat dari partai tahun 1939.

Pada kongres PSII di Palembang tahun1940 diputuskan menyetujui pemecatan atas S.M.Kartosuwiryo .Setelah dipecat,permulaan tahun 1940 Kartosuwiryo mendirikan Komite Pertahanan Kebenaran PSII yang mana tanggal 24 Maret 1940 mengadakan rapat umum di Malangbong,Garut.Dalam rapat itu,diterangkan bahwa akan dijalankan “politik hijrah” juga disiarkan keputusan untuk mengadakan suatu “suffah” yaitu suatu badan yang mendidik menjadi pemimpin-pemimpin yang ahli.

Sehingga berdirilah PSII kedua,dalam hal ini bendera dan nama PSII dipakai dengan menggunakan asas dan anggaran dasar yang sama.Dalam kelompok ini sudah nampak cita-cita teokratis islam yang nantinya akan menjadi dasar perjuangan Darul Islam Kartosuwiryo.

Namun,kesempatan untuk berkembang lenih lanjut lagi terhambat karena keadaan perang.Maka tanggal 10 Mei 1940 karena keadaan darurat habislah riwayat kedua partai tersebut dibidang politik.

Latar Belakang berdirinya Sarekat Islam

Posted by : Unknown on : With 0comments
Tag :
Prev

Menu

.
NewAdrDownload. Powered by Blogger.

Tombol Atas

Blogger templates

▲Top▲